7.11.11

Secret Star (1D Love Story - Niall Horan)

Bandung…
Matahari terbenam, cahaya indah menyinari kebun teh dipuncak sana. Dua anak kecil terduduk manis diatas rerumputan hijau.
“Beneran pindah?” Tanya seorang cewek yang baru saja duduk dibangku TK, Lika Carissa.
“Iya, kenapa? Kata Mama mau pindah ke Australia,” balas cowok manis yang baru duduk dibangku kelas satu SD dan Lika biasa memanggilnya James.
“Hmm” Lika mengangguk pelan. Tanpa mereka sadari, malam sudah tiba. Tampak bintang-bintang indah. “James, tau nggak? Kata temen-temen aku pas tadi disekolah, kalau kita berdoa dan berharap pada bintang, semuanya akan dikabulin dan jadi nyata.” Lika memandang bintang-bintang dengan penuh harap.
“Percaya? Polos banget sih,” dipukulnya pelan kepala Lika.
“Ih apaan sih! Woo kamu aja yang begooo, aku tuh udah berharap banyak banget, pasti dikabulin! Liat aja nanti.” Lika yakin.
“Iya iya, emang udah berharap apa aja?” Dipandangnya bintang-bintang dengan perasaan penasaran dengan harapan teman kecilnya itu.
“Aku tuh pengen jadi putri cantik yang pakai gaun pink terus pake mahkota asli dan perhiasan yang indah banget! Terus kamar aku tuh full banget sama yang namanya girl stuffs! Kan selama ini Mama naro barang-barang Papa dikamarku, kesel banget!” Lika menggepalkan tangannya seperti ingin menonjok. “Oh iya! Aku juga mau dansa sama cowok cakeeep!”  Dipukulnya tangan James.
“Duh sakit, iya deh iya,” James hanya menggeleng. “Eh ikut kerumah sebentar yuk, oke?” Ditariknya tangan Lika yang baru saja memakai gelangnya. Rumah mereka tidak jauh, tapi juga tidak dekat.
“Nih,” diserahkannya bola basket pertamanya. “Buat kamu. Kenang-kenangan aja kalau kita nggak ketemu. Kan kalo aku balik belum tentu kita bakalan ketemu lagi.” Lika menerima bola itu, kemudian tersenyum dan pamit pulang.
Esok paginya, Lika bangkit dari kasur sambil membawa boneka beruang kecil yang sedang membawa sebuah coklat, kemudian diberikannya pada James. Kabarnya dia akan berangkat sore ini. James dengan senang menerimanya. Sampai akhirnya dia akan berangkat, boneka itu terjepit dilemari dan tidak sengaja tertarik oleh James dan coklat itu terlepas dari tangan si boneka. Kemudian James menaroh boneka itu di lantai, belum sempat dia ingin menjaitnya, dia sudah harus mengosongkan kamar sehingga boneka ia tinggalkan sementara di lantai kamar yang tanpa ia sadari terletak disebelah sampah-sampah. Lika melihat dan terjadi lah kesalah pahaman…
Dengan perasaan kesal, dilemparnya bola basket itu jauh-jauh kearah danau yang sangat luas dan memiliki kemungkinan yang besar bola itu akan terbawa jauh dari sana..
“KALAU EMANG NGGAK MAU YA NGGAK USAH TERIMA!!! NGGAK BUTUH!!!” Itu lah kata-kata yang keluar saat melempar bola itu.
Sore itu juga, Lika diajak orang tuanya untuk menghampiri keluarga Horan yang akan berangkat ke Australia. Lika bermalas-malasan. Tidak hanya karena dia capek badan, tapi juga capek hati.
“Lika Carissa!” Bentak Mama. “Anaknya keluarga mereka kan teman dekat kamu! Nggak sopan ya!” Lika yang masih duduk dibangku TK, langsung menangis.
“LIKA NGGAK MAU, NGGAK MAU!! LIKA CAPEK!! AAA!!” Rengeknya. Papa kemudian menghampiri mereka kemudian Papa mengajak Mama untuk menghampiri mereka dan meninggalkan Lika dirumah agar dia bisa beristirahat.


………………………………


Jakarta…
“Maaaa, Papa kemana?” Lika mengambil roti di meja makan.
“Papa dikamar mandi, buang air. Lagian kamu lama, Papa kira kamu selesainya lama,” Mama setiap pagi selalu menyiapkan bahan-bahan makanan untuk siang dan malam nanti.
“Yee, iya sih aku emang aku suka lama-lama kalo pagi, tapi nggak untuk hari ini! Aku tuh ada latihan cheerleaders, kalo telat aku bisa dihukum!” Lika menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Cinta banget sih kamu sama cheerleaders. Kenapa pagi-pagi sayang?” Dihampiri anak tunggalnya yang masih memasang muka terburu-buru.
“Iya lah! Kan dance gitu, Ma! Keren deh pokoknya. Kalo itu jangan tanya aku, emang gurunya yang minta pagi, Ma, soalnya masih pada seger gitu, udah ah aku telat nih!” Saat Papa keluar dari kamar mandi, ditariknya lengan Papa kemudian dikecupnya pipi Mama. “Yukk, Pa! Dah Mama!”
Sesampainya di depan sekolah, Lika langsung mengecup Papa dan keluar mobil diikuti gelengan Papa.
“Tumben lo pagi?” Sapa Bella.
“Jahat lo, Bel! Gue bela-belain bangun pagi sama makan di mobil nih demi nggak dikeluarin dari anggota cheers!” Lika menuju ke ruang ganti baju diikuti Bella.
“Berarti pelajaran pertama lo nggak ikut dong?” Tanya Bella diikuti anggukan Lika. “Enak banget, lo nggak belajar fisika sama Pak Ram, curaang!” Bella mencubit pelan teman SD-SMAnya ini.
“Ih apa-apaan sih?” Dielusnya lengannya yang baru saja dicubit Bella. “Nggak enak dong, gue ketinggalan pelajaran. Mana susah banget kan materi yang lagi dibahas,” Bella menyipitkan mata dan memandang kearah Lika. “Apaan sih?” Lika risih.
“Enak dong, lo nggak pusing, nggak stress! Ah lo sih kerajinan banget belajar!”  Lika meninggalkan Bella yang sedang mengomel diruang ganti. Bella berjalan kearah yang berlawanan yaitu kelas mereka dan Lika ke lapangan basket indoor dengan mengenakan pakaian cheerleadersnya. Tanpa disadari, bukan hanya anak cheers yang ngumpul, anak basket juga sudah berkumpul. Lika pun langsung berlari menuju kearah gerombolan atau kumpulan anak-anak cheers.
“Eh eh denger deh!” Seru Bianca. Dia emang biangnya gossip. “Ada anak baru loh, kelas sebelas dan dia masuk basket!” Bianca meloncat-loncat.
“Terus kenapa, Bi?” Seru teman-temannya.
“Lo tuh harusnya nanya, ‘ganteng nggak, Bi?’ Bukan malah nanya kenapa, etdah!” Bianca  memukul jidatnya. “Ganteng banget sumpah! Irish boy cuy!! Blonde hair, sumpah ya gereget gue!” Teman-teman Bianca ikut berteriak gemas.
“Pindahan darimana?” Lika masih tidak mengerti mengapa mereka sangat suka bergosip apalagi tentang cowok.
“Dari London, Ka! Gue nggak tau ya dia turunan apa tapi yang jelas wow banget! Ngomong bahasa Indonesianya juga bagus-bagus aja.” Baru saja Bianca bercerita, cowok yang dimaksud masuk ke ruangan untuk latihan basket. “Ssst woy, itu orangnya!” Bianca berbisik dan menunjuk diam-diam kearah cowok itu. Teman-teman Bianca dan Bianca sendiri, berteriak melihat cowok itu.
“Rambut sama matanya ituuu,” ucap salah seorang dari mereka. Lika hanya menggeleng. Emang sih tuh cowok cakep, manis, kece, hot, tapi nggak sampe segitunya juga.
“Loh? Cowok itu kenal sama Jord, Bi?” Lika melihat cowok itu menghampiri Jord dan bersikap seperti sudah kenal dekat.
“Lah? Iya ya? Nggak tau deh,” Bianca ikutan bingung. “Udah lah, intinya dia kece parah!” Lika tertawa kecil.
Selesai latihan…
“Lika!” Sapa Jord yang sedang berjalan dengan anak baru itu.
“Yo. Kenapa?” Balas Lika. Dia mengetahui cowok itu sedang memandanginya, tapi dia hanya terdiam, mengabaikan.
“Istirahat kedua lo nggak usah ke kantin, dikelas sama gue, lo bantu gue bikin susunan buat kelas kita. Bisa?” Jord dan Lika duduk dibangku kelas sepuluh. Sekelas. Jord diangkat menjadi ketua kelas dan Lika menjadi wakil.
“Hmm bisa kok, emang yang kemaren belom?” Lika berusaha membuat cowok itu berhenti memandangnya.
“Belom. Gue bingung banget,. Lagian Bu Ela ngomong kayak lagi balapan, ngebut banget. Mana gue ngerti.” Bu Ela emang terkenal guru paling bawel dan ngomong nggak pake titik atau koma. Lika mengiyakan kalimat Jord kemudian menuju ruang ganti kemudian kelas untuk pelajaran kedua dan kantin.
“Eh denger-denger ada anak baru kelas sebelas ya? Gue udah liat, kece! Oh ya dan yang wow banget, gue yakin lo bakal nggak percaya. Ternyata dia saudaranya Jord!” Bella membuat Lika terselak jusnya.
“Iya? Kok tau? Pantes aja tadi diruang basket indoor mereka saling sapa-sapaan kayak udah kenal deket.” Lika mengingat-ingat kejadian diruang tadi.
“Gue tebak, pasti Bianca udah bahas ini duluan sebelom gue? Tentang anak barunya?” Lika mengangguk diikuti tawa mereka berdua.
Istirahat kedua…..
“Gue dikelas aja, Bel. Bantuin Jord. Lo kalo mau makan, makan aja. Ntar langsung ke kelas,” Bella pun langsung menuju kantin. Tinggal lah Jord dan Lika dikelas.
“Eh, lo tau ada anak baru? Kenal? Kayaknya dia kenal lo deh,” Jord basa-basi – berpura-pura ngetes Lika – padahal ada suatu rahasia yang dia ketahui.
“Iya gue tau tapi gue nggak kenal. Salah orang kali dia,” Lika menlanjutkan menulis kerjaan mereka. Tiba-tiba seorang lelaki masuk.
“Jord, kata lo Liam sekolah disini?” Anak baru itu memasuki kelas.
“Emang disini, tapi dia lagi sakit. Kenapa nggak sama Zayn, Louis, dan Harry aja dulu?” Jord menepuk pundak saudaranya.
“Mereka lagi latihan futsal. Dari dulu yang basket gue sama Liam doang coy.” Jord tertawa kemudian mengenalkan Lika dengan saudaranya.
“Oh iya, Ka, kenalin sodara gue, Niall. Niall, kenalin temen gue, Lika.” Jord meraih tangan Lika dan Niall untuk bersalaman.
“Lika Carissa.” Lika memperkenalkan diri dengan suara pelan.
“Niall Horan.” Lika sedikit tersentak pelan mendengar nama itu. Dia merasa ada sesuatu yang tidak asing. Dia mengabaikannya kemudian lanjut mengerjakaan tugas dari Bu Ela.
“Gue ganggu?” Niall bertanya kepada Jord dan Lika.
“Enggak, Kak. Santai aja,” balas Lika sambil menulis. Diikuti anggukan dan senyuman jail Jord. Istirahat kedua sengaja lebih lama karena guru-guru ingin memberi surprise sehingga mereka istirahat dengan waktu yang lama.
“Eh gue ke toilet ya, kebelet banget!” Jord kemudian lari keluar kelas sambil berloncat-loncat menahan. Kesunyian menyelimuti diantara Lika dan Niall. Lika yang baru kenal dan sibuk, tidak tertarik dalam berkenalan lebih, berbeda denga Niall yang dari awal sudah memikirkan topik yang harus dibahas dengan Lika.
“Ka, jadi lo udah kenal sama Jord lama?” Niall memulai pembicaraan.
“Iya, dari kelas delapan. Pas kelas tujuh nggak sekelas, kenapa? Kakak beneran saudara Jord?” Lika masih menulis.
“Iya. Saudara jauh gitu. Emang bener rumah lo tetanggaan sama Jord juga?” Niall mendekatkan diri ke meja.
“He-eh. Aku emang nggak suka keluar rumah, Kak. Jadi waktu itu aku nggak tau kalau Jord ternyata tetanggaku.” Jelas Lika yang sekarang sudah berhenti menulis karena capek.
“Kok berhenti nulis?” Tanya Niall tiba-tiba.
“Iya, capek, hehe. Banyak banget yang harus ditulis.” Lika menghembuskan nafas beratnya.
“Yang mana aja?” Lika kemudian menunjuk kearah tulisan-tulisan yang penting untuk ditulis. Niall mengangguk kemudian melanjutkan tugas Lika dan Jord.
“Ehh, Kak! Ngapain? Bukan kerjaan kakak, ini punya aku sama Jord!” Dihentikannya tangan Niall yang sudah menulis satu kata.
“Lah, lo capek? Gue bantu dong, wajar.” Niall merebut pulpen ungu milik Lika. Jord pun kemudian masuk ke kelas dengan tiga gelas air putih dingin.
“Jord!” Lika menarik pulpennya dari tangan Niall kemudian berlari menuju Jord sambil menyerahkan pulpennya itu. “Sekarang giliran lo yang nulis, gue udah nulis bagian yang gue. Kalo lo nggak ngerti, tanya gue aja. Mau ke perpus dulu sebentar, pinjem buku.” Jord menerima pulpen itu kemudian Lika berlari menuju perpustakaan.
“Gimana?” Jord duduk dibangku tepat disebelah Niall.
“Nggak gimana-gimana. Kayaknya dia nggak inget apa-apa deh.” Nyerah Niall.
“Nyerah? Payah! Lagian jelas kalo dia nggak inget. Itu kan udah beberapa tahun yang lalu. Lo juga sih mainnya tiba-tiba.” Jord memberikan segelas air putih dingin kepada Niall.
Sementara itu di perpustakaan…
Lika melihat Bella yang sedang berdiam-diam memakan permennya dibalik majalah besar.
“Udah gue duga.” Lika menghampiri Bella. “Pasti lo males minjem majalah takut lupa balikin terus dan akhirnya kena denda, jadinya baca disini. Dan nggak salah lagi. Baca sambil ngemil. Lo banget,” lanjut Lika yang kemudian duduk dibangku sebelah Bella.
“Elah apaan sih yang lo nggak tau tentang gue? Udah-udah jangan dibahas, nanti ketauan penjaga perpus. Kenapa lo kesini? Tumben-tumbenan banget. Katanya mau ngerjain kerjaan kelas sama Jord?” Bella mengambil sekotak coklat miliknya.
“Gue udah ngerjain yang bagian gue, Jord lagi ngerjain.” Bella mengangguk kemudian kembali membaca majalah yang dari tadi dipegangnya. “Eh anak baru yang dari London itu kayaknya kenal gue gitu deh, padahal gue baru kenal dia aja sekarang.” Lika bersender.
“Iya? Suka sama lo kali, terus dia ngestalk elo terus.” Bella menaroh majalahnya kemudian mengajak Lika untuk ke lapangan olahraga.
“Ngapain kesini?” Lika melepaskan tangannya dari genggaman Bella.
“Kan abis istirahat pelajaran olahraga, dongo” Bella tertawa kecil.
“Berasa pinter banget lo, Bel. Keruang ganti dulu yuk, ganti baju olahraga. Oh ya tapi emang dia tau gue darimana?” Mereka menuju ruang ganti di lantai dua.
“Mana gue tau. Lagian tenang aja sih. Dia juga cuma beberapa bulan doang disini. Sementara gitu. Kan dia pindah kesini mendadak, terus katanya sih orang tuanya nyuruh sementara satu sekolah sama Jord. Nah sekarang nih dia lagi nyari-nyari SMA yang pas sama dia. Dia kan pengen banget tuh ikut band gitu. Katanya bakal pindah bareng Harry, Kak Liam sama yang laennya. Kurang tau juga, soalnya Kak Zayn pengen disini.” Bella mendapatkan semua informasi itu dari Jord langsung. Dia tipe seorang cewek yang pengen tauan banget.
“Hmm, yaudah. Yuk buru, bentar lagi masuk.” Setelah mengganti baju mereka, mereka langsung berlari menuju lapangan outdoor.


………………………………


Dua bulan kemudian……
“Good news nih buat lo,” Bella menghampiri Lika yang sedang asik membaca novelnya. “Sodara Jord itu udah pindah dari beberapa minggu yang lalu.” Lanjut Bella.
“Good news? Biasa aja kali. Emang gue benci banget gitu sama dia? Sampe-sampe dia pindah aja jadi good news. Yaudah deh nggak penting dan nggak ngaruh juga sama gue,” bel pun berbunyi. Pelajaran pertama adalah pelajaran matematika dengan guru yang membosankan. Jord pun yang sudah mulai bosan, langsung bermain Twitter dan bermain mention-mentionan dengan Lika yang padahal hanya terhalang oleh empat orang.

#PrayForLikaCarissa wakaka RT @Licarissa: Kepala mau meletus belajar MTK assfgyrhrjuudjksg

Lika yang membaca mention tolol dari Jord, hampir saja tertawa.

Genit lo, pray for gue? Yang ada #PrayForJord soalnya lo itu nggak pernah sehaat =D RT @JordJordan: #PrayForLikaCarissa wakaka RT @Licarissa: Kepala mau meletus belajar MTK assfgyrhrjuudjksg

Jord menahan tawa. Karena dia ingin menghentikan kekonyolan ini, Jord mengalihkan pembicaraan.

Pengen bet lu digenitin haha, eh dapet salam dari Niall, inget dia nggak? RT @Licarissa: Genit lo, pray for gue? Yang ada #PrayForJord soalnya lo itu nggak pernah sehaat =D RT @JordJordan: #PrayForLika\cont)

Lika yang sudah keluar dari Twitternya kembali mengarah ke papan tulis tanpa tahu apa balasan Jord. Jord hanya terdiam melihat temannya. Mungkin kah dia pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kalimat Jord barusan atau emang udah nggak Twitter-an lagi? Pelajaran pun berganti dan bel istirahat berbunyi.
“Kok mention gue nggak lo bales? Marah coy?” Jord menarik tangan Lika yang baru saja ingin keluar kelas bersama Bella.
“Lah? Oh mention lo yang terarkhir? Yang mana? Kan yang terakhir kali gue bales yang genit itu kan? Nah terus HP gue off jadinya nggak bisa on lagi. Nanti gue bales ya kalo ada waktu.” Lika menunjukkan sinyal HP-nya, yang bertuliskan “edge” bukan “EDGE” yang artinya itu, off. Jord mengerti kemudian melepaskan tangan Lika.
“Emang lo mention apaan aja sama Jord?” Tanya Bella di kantin, yang baru saja datang ke meja makannya dengan sepiring siomay dan segelas jus mangga.
“Ah enggak. Biasa, orang goblok. Mention cuma kehalang empat orang dan ngomongin sesuatu yang nggak jelas,” Lika meminum jus strawberrynya.
“Lika Carissa?” Sapa seorang cowok berbadan besar – karena ototnya – dan oh, Liam.
“Iya, kenapa kak?” Lika udah biasa dipanggil kakak kelas. Apalagi sama Liam. Soalnya Liam naksir sama saudaranya Lika, Anita Farras.
“Gue mau nitip ini,” Liam memberikan sebuah buku. “Tolong kasihin ke Niall.” Lika kaget.
“Ha? Niall?!?” Lika dan Bella berseru bersama, kaget. Kemudian mereka saling menatap.
“Eh? Iya, Niall. Gue mau nitip ke Jord tapi dia tadi udah keburu pulang, katanya mau ke dokter.” Jelas Liam kemudian berlari kearah lapangan. Lika dan Bella masih saling bertemu pandang yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Mungkin maksud Kak Liam, lo kasih ke Jord terus Jord nganterin kerumah Kak Niall. Kan rumah lo tetangga sama Jord, terus mungkin nggak ada yang tau rumah Kak Niall kecuali Jord, sodaranya sendiri.” Pikir Bella. Lika hanya mengiyakan pelan.
Bel pulang sekolah…..
“Gue duluan ya, byee!” Bella berlari menuju parkiran motor. Supirnya kalau jam pulang sekolah selalu menjemput naik motor, jarang memakai mobil.
“Bye,” Lika melambaikan tangannya kearah Bella.
“Dek, pulang sekarang?” Seseorang menempuk pundak Lika, Lika tersentak kaget.
“AAA!” Dilihatnya orang itu, “oh Pak Mir. Elah, Pak Mir bikin kaget aja. Iya pulang, kok tumben nanya? Emang Mama mau pergi?” Lika memasuki mobil.
“Iya, Dek, Mama mau jemput Papa dibandara. Saya disuruh ikut,” Papa Lika mempunyai projek yang sangat besar dan bisa menghasilkan banyak uang. Papa setiap minggu pergi ke luar negeri seperti Australia, Canada, New York, London, dan yang lainnya. Sesampainya dirumah Lika langsung menyalim Mama dan mengantar Mama sampai depan rumah, kemudian mobil menghilang dibelokkan. Dia teringat akan titipan Liam, dengan cepat dia mengambil buku tersebut dari tas yang tergeletak dikamarnya kemudian dia berjalan menuju rumah Jord. Rumah dia dan Jord berdepan-depanan tetapi jalan di depan rumah mereka sangat lebar sehingga dua mobil bisa lewat dengan mulus tanpa harus berganti-gantian untuk jalan. Sesampainya di depan rumah Jord, Lika menekan bel yang tepat dibalik dinding. Ada seseorang yang mengintip dari atas kemudian menutup tirai jendela dan membuka pintu. Lika yang sedang iseng melihat-lihat buku hitam polos itu, dikagetkan oleh suara pagar yang dibuka.
“Kak Niall?!” Lika kaget. Ini kan rumah Jord, kok ada Niall? Atau mungkin lagi main?
“Oh Lika? Kenapa kaget? Oh haha lo bingung kenapa ada gue? Gue emang tinggal disini sama Jord. Orang tua gue tinggal deket kantor bokap. Gue tinggal dirumah Jord. Sekolah gue nggak jauh banget dari sekolah lo, emang lo nggak tau?” Niall meraih tangan Lika dan mengajaknya masuk dan duduk diteras.
“Hmm Jord lagi ke dokter, ada perlu apa?” Niall kembali ke niat awal Lika datang.
“Oh, aku juga nggak ada niat ketemu Jord. Ada sih tapi hehe Kak Niall ternyata ada disini. Nih buku kakak. Tadi Kak Liam nitip,” diserahkannya buku milik Niall yang cukup tebal.
“Lo tau isinya?” Tanya Niall.
“Ah? Enggak. Lagian nggak sopan banget buka-buka.” Lika tertawa kecil.
“Hahahaha iya bener. Eh panggil gue Niall aja, nggak usah pake ‘kak’. Nggak biasa aja lo manggil gue pake ‘kak’ kan selama ini… Hmm nggak usah pake aja pokoknya hehe.” Lika mengangguk kemudian tanpa sadar dia cukup lama ngobrol dengan Niall. Tiba-tiba mobil Jord muncul.
“Eh Jord udah balik. Duluan ya, Kak. Eh maksudnya Niall” kemudian Lika berlari menuju rumahnya.
“Jadi? Ada perkembangan?” Jord penasaran.
“Lumayan. Sedikit sih.” Niall kemudian merangkul saudaranya masuk kerumah.


………………………………


“Mama nggak bisa nganter? Pak Mir?” Lika yang sedang kebingungan berjalan mondar-mandir depan TV.
“Iya sayaaang, kan kemaren malem Mama udah bilang ke kamu, nggak ada yang bisa nganter jadinya mau nggak mau berangkat sama Jord. Udah ah kamu nggak usah mondar-mandir gitu, pusing liatnya.” Mama harus menjenguk adikknya alias tantenya Lika yang sakit, Papa sedang ada rapat dan sudah berangkat dari subuh dan Pak Mir pulang ke kampung selama seminggu karena harus menjaga ibunya yang sakit. Ada sih pembantu, tapi dia nggak bisa bawa kendaraan.
“Errr iyaaaaa. Yaudah aku berangkat sama Jord deh ah, dah!” Lika berjalan kerumah Jord sambil mengoceh pelan.
“Kenapa lo? Pagi-pagi udah ngomel-ngomel. Sendiri pula.” Niall keluar dengan motor ninjanya yang berwarna merah.
“Oh hey, haha enggak biasa tuh Mama suka mendadak kalo kasih info. Ohya Jord ada nggak?” Lika mencoba mengintip kedalam rumah.
“Percuma lo intip juga, Jord udah berangkat. Lo nggak sekolah?” Niall memarkir motornya dan kemudian menutup pagar.
“Ha?? Udah berangkat?? Dari kapaaann?” Lika kaget. Karena orang yang bisa ditumpangi Lika hanya Jord seorang.
“Kenapa kaget? Udah dari subuh kali. Ketua kelas katanya banyak tugas sebelum masuk harus siapin macem-macem makanya dia bangun pagi banget. Lo nggak masuk? Keburu telat.” Lika melirik jam tangan ungunya yang kecil.
“AAAAAA!!” Teriaknya tiba-tiba. “Bentar lagi masuuuuk! Duh gimana ini,” Lika menepuk jidatnya berkali-kali dan tiba-tiba tangan Niall meraih tangan Lika dan menghentikannya.
“Nggak usah sampe mukul diri sendiri juga.” Lika kemudian terdiam dan kembali berfikir bagaimana caranya dia sampai disekolah dengan tepat waktu. “Ngapain repot-repot sih? Lo nebeng gue aja. Sekolah gue kan deket sama sekolah lo. Abis dari sekolah lo, gue langsung lurus aja sampe pertigaan belok kiri deh udah beres tinggal belok-belok.” Lika tanpa pikir panjang langsung menerima ajakkan Niall.
“Ketinggian ya?” Tanya Niall saat merasakan Lika kesulitan untuk naik keatas motor.
“Eh? Ah enggak juga sih ahahaha udah yuk lanjut,” dengan rasa malu, Lika menundukkan kepala. Nggak berapa lama mereka sudah sampai disekolah Lika.
“Rajin-rajin lo belajar, jangan maen-maen terus haha.” Niall tertawa kecil kemudian mengelus kepala Lika dengan lembut.
“Yee berasa sekolah udah bener aja sih haha,” kemudian Lika terdiam. “Eh udah buruan sanaaa ke sekolah, sayang banget udah masuk sana nanti dikeluarin!” Sekolah Niall yang sekarang emang sekolah terfavorit banget dan fasilitasnya nggak ngecewain. Bayarannya juga mahal, emang udah keren banget sekolahnya.
“Haha oke.” Niall kemudian menembus angin pagi dengan kencang. Lika langsung memasuki sekolah dan entah kenapa dia lagi pengen banget senyum lebar-lebar.
BRUK!
“Eh sorry, lo nggak apa-apa?” Seorang cowok menabrak Lika cukup kencang. Sepertinya cowok ini sedang berlari dan buru-buru. Cowok itu mengulurkan tangan dan tanpa sadar Lika terus memperhatikan cowok itu. Dengan panik ia langsung meraih tangan lembut itu dan bangun dari jatuhnya.
“Gue Kevin Pratama, panggil Kevin dan gue anak kelas sebelas, lo?” Kenal cowok itu.
“Oh aku Lika Carissa. Panggil Lika aja hehe aku kelas sepuluh.” Lika merapihkan bajunya.
“Lo nggak apa-apa, Ka?” Kevin mengulang pertanyaannya.
“Eh enggak kok, Kak. Kak Kevin sendiri?” Lika balik bertanya.
“Gue baik-baik aja. Yang harusnya ditanyain tuh elo, soalnya lo jatoh. Yaudah deh udah bel tuh, buru masuk.” Lika mengangguk kemudian berlari menuju kelas dengan bukunya yang bertumpuk ditangannya. Kemudian dia langsung duduk dibangkunya.
“Tumben telat?” Bella langsung memulai pembicaraan. Kebetulan guru Bahasa Spanyol belum masuk ke kelas sehingga Lika bisa bercerita.
“Iya berangkat sama Niall terus gue ketabrak sama Kak Kevin,” jelas Lika.
“Oalah gitu pantesan tumben banget gitu.” Bella langsung kembali ke posisi awal karena guru Bahasa Spanyol telah masuk ke kelas.
Istirahat pertama…
“Eh emang bener tadi pagi lo berangkat sama Niall? Kok bisa?” Jord menghampiri Lika yang sedang duduk di kantin.
“Iya. Tadi tuh niatnya gue mau bareng sama lo, tapi kata Niall lo udah berangkat dari pagi mana tadi udah jam deket-deket masuk sekolah yaudah Niall nawarin naik motornya. Kalo gue tolak, mau naik apa coba? Sukur lah tadi ditawarin.” Jord mengangguk kemudian tersenyum tipis.
“Soalnya tadi pagi gue denger raungan motor yang udah khas banget dan gampang ditebak kalau itu motornya Niall,” Jord mengambil sekotak coklat dikantong bajunya. “Ngomong-ngomong, tolong kasih coklat ini ke Bella ya, jangan bilang dari gue. Kalo masalah ngaku, itu gampang tapi biar gue sendiri.” Lika menerima coklat itu dan ketika Jord menghilang, tidak berapa lama Bella datang.
“Kesel ih! Mbak Ani yang dikantin nggak jual coklat. Jual sih tapi udah abis,” Bella mengeluh. Dia emang suka banget ngemil apalagi coklat.
“Oh ya? Hmm kebetulan banget,” Bella memandang Lika dengan raut muka yang bingung. “Nih!” Lika mengarahkan sekotak coklat yang dibungkus pita pink yang kemudian diambil Bella.
“Tumben lo kasih gue coklat? Lucu gitu lagi, ada maunya?” Tanya Bella penasaran sebelum membuka dan memakannya.
“Enggak. Cuma gue kasih racun aja. Hahaha enggak lah. Tadi ada someone gitu yang nitip tuh coklat buat lo.” Lika tersenyum tipis mengharapkan Bella tidak bertanya banyak.
“Ohhh oke” kemudian Bella memakan coklat itu walau dengan sedikit perasaan ragu. Ketika coklat sudah habis, Bella tersadar coklat yang dia makan adalah coklat mahal yang juga susah dicari dimana-mana. Sekalinya ketemu pasti udah abis.
“Penasaran?” Lika bertanya.
“Iyaaaa! Banget!” Jawab Bella semangat. Bella mengira Lika akan memberitahu padahal, tidak. “Kok lo jahat sih, Kaaa! Ayo dong” Bella memohon.
“Aaah udah ah nanti juga dia nongol kok dan ngaku, sabar aja, Bel!” Lika kemudian menarik tangan temannya untuk menuju ke LAB IPA dilantai tiga. Baru saja mereka memasuki kelas, bel masuk sudah berbunyi.
“Pas banget, gue kira lo berdua bakalan telat kayak minggu lalu.” Ejek Jord yang sedang memakai baju LAB-nya.
“Yee, pengen banget lo gue sama Bella telat!” Lika kemudian mengambil bajunya yang terlipat rapih diatas mejanya. Tiba-tiba guru biologi datang dengan buku besarnya. Hari ini mereka membedah seekor ikan. Lika mendapat tugas mengambil ember yang berisi air dan ikan di kelompoknya, tanpa sengaja seorang anak lelaki menabrak Lika dan baju Lika basah semua dan tidak salah lagi, bau amis.
“AAAAAA!” Teriak Lika kaget. Semua dengan cepat memandang kearah Lika yang sedang terduduk, basah kuyup, dan beberap ikan dipangkuannya. Dengan gelinya Lika menyingkirkan ikan-ikan itu diikuti Jord dan Bella yang membantu.
“Bu, aku nemenin Lika ganti baju ya.” Bella kemudian mengajak Lika keluar dan meminta Jord untuk tinggal dan membedah ikan dengan Arvi.
“Duh, Bel! Gue nggak bawa baju ganti. Gue cuma bawa kalo ada pelajaran olahraga doang, hari ini kan nggak ada.” Lika panik dan mondar-mandir di depan loker. Kemudian tiba-tiba saja Kevin datang.
“Lika? Nggak belajar?” Kevin berhenti dan menghampiri Lika. “Oh hey,” Kevin tersenyum kepada Bella kemudian kembali memandang kearah Lika.
“Lagi pelajaran, tapi tadi aku basah kuyup, Kak. Bau amis lagi, duh dan aku nggak bawa baju ganti!” Lika mencoba melepas baju LAB-nya yang sangat basah kuyup. Kevin membuka baju seragamnya.
“Nih.” Diberikannya kepada Lika. “Untung nih gue pake daleman baju rumah, kalo enggak sih gimana bisa gue minjemin nih baju ke elo haha udah buru pake dari pada lo dikira manusia ikan.” Lika menerima dan tersenyum kemudian mengangguk pelan dan menarik Bella ke toilet.
“Sukur, Ka, tuh kakak kelas baik! Buru ganti.” Bella langsung berdiri di depan kaca dan merapihkan rambutnya.
“Sukur sih sukur, Bel. Tapi masa gue cuma pake atasan? Bawahnya? Please ya, Bel!” Bella kemudian teringat bahwa sahabatnya basah kuyup sampai pakaian bawah.
“Gue ada sih tuh rok cadangan satu kalo-kalo nembus, mau? Gue ambil yaaa!” Bella kemudian berlari menuju loker sedangkan Lika menunggu. Dia teringat kejadian tadi, saat Kevin meminjamkan baju seragamnya dan yang aneh, dia justru malah teringat sama bayangan Niall. Bella mengangetkan Lika.
“Bikin kaget lo, Bel!” Lika memukul pelan temannya.
“Yeee pasti ngelamun? Udah nih ah buruan gantiiii,” Lika menerima rok itu kemudian dia mengganti pakaian. Keluar lah dia dengan rok milik Bella dan baju seragam yang kebesaran.
“Haha kayak badut kalo gue liat baju lo. Untung nggak sampe rambut, nggak usah sampoan deh!” Ejek Bella.
Bel pulang….
“Bel, duluan ya! Supir gue markir mobil disebrang, soalnya disekolah penuh.” Lika melambaikan tangan kepada Bella kemudian berlari menuju gerbang dan dengan tiba-tiba seorang cowok menarik tangan kanan Lika.
“Baru mau pulang? Bareng yuk? Gue nggak ada temen nih,” ajak Kevin.
“Eh boleh si, Kak, tapi aku udah dijemput hehe, maaf.” Kevin cemberut. “Kak, makasih ya udah mau minjemin baju, besok aku usahain aku balikin ke Kak Kevin. Duluan yaaa” kemudian Lika berlari ke parkiran sebrang. Untungnya jalanan lagi sepi. Saat dijalan, mereka terjebak macet.
“Macet?” Tanya Lika bingung. Jarang banget terjadi macet di daerah sekitar sekolah dia.
“Iya, Dek, ada kecelakaan kayaknya,” cukup lama terjebak disana.
Sesampainya dirumah, Lika mengerjakan PR sampai jam lima. Dan tidak tahu kenapa dia ingin bertemu dengan Niall. Dia merasa sangat nyaman bercerita dengan Niall. Selesai mengerjakan tugas, dia langsung berjalan menuju rumah Jord tanpa mengganti pakaiannya. Baru saja Lika ingin memencet bel rumah, pembantunya keluar.
“Mbak, Niall ada?” Lika bertanya dengan pembantu itu kemudian pembantu itu segera memanggil Niall. Seperti biasa, serasa ada seseorang yang mengintip dari jendela kamar lantai dua. Lika berdoa semoga itu hanya pikirannya saja.
“Hey,” Niall keluar dan tangannya diperban!
“Niall? Lo kenapa??” Lika membantu Niall membuka pagar rumah.
“Ah nggak apa-apa. Biasa lah, buru-buru terus kecelakaan.” Lika teringat kejadia saat dia pulang sekolah. Ternyata kecelakaan itu menimpa Niall!
“Serius?? Lagian lo ada apaan sampe buru-buru gitu? Pasti ngebut deh!” Lika kemudian membantu Niall duduk karena kakinya juga diperban.
“Hmm, jujur nih?” Niall bertanya polos.
“Iyalah! Emang ada apaan sih? Sampe ngebut? Darurat banget?” Lika duduk disamping Niall.
“Hmm oke,” Niall menarik nafasnya. “Jadi tadi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh terjadi sama lo, gue panik dan langsung tancep gas, gini deh hasilnya.” Niall tertunduk.
“Sesuatu aneh terjadi sama gue?” Niall mengangguk. “Kok bisa lo ngerasa gitu? Oh jangan-jangan yang gue kesiram itu?” Lika mencoba memandang wajah Niall.
“Hmm, nope.” Jawab Niall singkat. Dia yakin ada sesuatu yang lain dari kejadian itu. Niall kemudian menyadari perbedaan baju seragam Lika. Modelnya saja sudah seperti milik Jord, bukan milik Lika.
“Eh itu baju lo, kok mirip kayak model Jord? Sejak kapan lo jadi cowok?” Niall menunjuk kearah pakaian Lika.
Lika kemudian menutupi badannya, “hehe ini gara-gara tadi baju gue basah kuyup terus gue nggak bawa baju ganti jadinya tadi ada kakak kelas namanya Kak Kevin yang minjemin.”
“Cowok? Harusnya yang minjemin cewek,” ucap Niall dengan perasaan cemburu yang ditutupinya.
“Iya sih tapi tadi yang ada cuma dia, dari pada ditolak? Haha apa enaknya belajar basah-basahan kecuali berenang, itu beda.” Lika tertawa kecil. Niall hanya tertunduk. Hening menyelimuti diantara keduanya.
“Hmm balik dulu ya, gue masih harus ngerjain tugas.” Lika kemudian bangkit diikuti Niall.
“Oke, thanks ya.” Senyum lembut menghiasi wajah Niall.


………………………………


Dua bulan kemudian…
“HA? LO SAMA KAK KEVIN?!?!?!” Lika langsung menutup mulut temannya dengan tangannya.
“Enggak! Duh jangan teriakkk!” Bisik Lika dikuping Bella.
“Hmm oke, terus kalau bukan jadian? Apa?” Bella bingung.
“Dia cuma deketin gue gitu, iya sih gue rada fly gitu kalo chat sama dia tapi kan gue nggak suka. Bingung aja nolaknya.” Bella mengangguk. Untung seisi kantin lagi banyak dan berisik jadi nggak ada yang denger kecuali satu, Jord.
“Lo jadian?” Bisiknya pelan dari belakang Lika.
“Eh? Enggak!” Lika menyubit Bella. Ini semua gara-gara Bella teriak.
“Ohhh.” Jord menundukkan kepala. “Kirain,” Jord pun pergi.
“Hmm oke.” Jawaban yang singkat dan cukup pelan.
“Jord kenapa? Cemburu deh dia kayaknya, Ka, pas dia tau Kevin deketin lo!” Bella menebak-nebak dari gerak-gerik Jord barusan.
“Enggak lah!” Cela Lika. Lika tau benar siapa yang disukai Jord, yaitu sahabatnya sendiri, Bella. Lika merasa ada sesuatu yang emang udah jadi beban pikiran Jord.
“Yee bagus dong kalo Jord suka lo. Tandanya banyak yang naksir sama lo, ya kan?” Bella tertawa kecil. Lika hanya tersenyum kecil kemudian melanjutkan memakan sotonya yang tadi tertunda. Baru saja mereka menaruh piring di tempat khusu piring dan gelas kotor, bel istirahat pertama selesai berbunyi kencang. Dengan segera mereka masuk ke dalam kelas drama. Untuk pelajaran Ekonomi –pelajaran setelah istirahat– digantikan dengan kegiatan drama karena minggu depan ada pentas seni disekolah dan kelas Lika, Bella, dan Jord mendapat tugas menampilkan sebuah drama.
“Asik banget nggak belajar pelajaran Bu Rita! Bebas!” Bella meloncat dengan gembira di depan ruang drama.
“Yee bahagia lo sekarang, minggu depan ulangan harian woy.” Jord datang sambil memberi naskah-naskah drama yang harus dihafalkan Lika dan Bella. “Bel, lo jadi Princess, terus Lika, lo jadi perinya.” Jelas Jord ketika naskah sudah ditangan mereka.
“LIKA! GUE PRINCESS!” Bella teriak senang. Dia emang seneng banget manggil dirinya sendiri ‘Princess’ dan kebetulan drama yang akan mereka tampilkan minggu depan adalah Cinderella. Dimana seorang gadis kaya menjadi pembantu untuk Ibu tiri dan saudara-saudara tirinya yang lain. Bella tidak peduli dengan bagian itu, dia hanya sangat gembira saat dia tahu dia akan berdansa dengan Mike. Cowok terganteng di angkatan  mereka. Sebenarnya Jord agak cemburu, Lika mengetahui hal itu.
“Ruang ganti baju dimana?” Lika kurang tahu letak-letaknya karena emang ini pertama kalinya dia ke ruang drama.
Jord menunjuk kearah pintu berwarna pink muda yang cantik. “Tuh tempat anak cewek. Lo nanti tanya aja kostum buat peri.” Lika mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan. Dia bertemu dengan Vina, mantan sahabatnya sewaktu SMP.
“Eh elo, ngapain disini?” Vina nyolot. Lika yang nggak mau cari gara-gara hanya tersenyum tipis. “Sok manis. Kok mau sih Kevin sama lo?” Vina menekan nama itu.
“Nggak tau deh gue. Tanya aja sama Kevin sendiri.” Lika kemudian mencari penjaga atau pengurus kostum. “Lagian gue nggak nerima dia juga.” Vina menarik tangan Lika sehingga Lika berdiri tepat di depan Vina.
“Ngocol lo sekarang? Berasa cantik? Ha?!” Vina mendorong Lika sehingga terduduk di lantai kemudian Lika bangun.
“Hmm gue cuma mau nanya, lo ngapain disini? Kita kan beda kelas, lagian nggak penting banget juga ya bahas Kevin. Lo mau dia balik? Oke, lo tanya aja sama dia, mau nggak dia sama lo lagi? Lagian gue juga nggak ada hubungan apa-apa sama dia.” Vina yang semakin jengkel langsung keluar dari ruangan. Lika kembali kepada tujuan pertamanya. Dan akhirnya seseorang memberinya kostum peri yang cantik. Pink muda indah dengan gliter yang menghiasinya. Dengan sepatu mungil yang juga berwarna pink. Warna kostum Lika sangat cocok dengan kulitnya yang putih lembut.
“Ini mah namanya cantikkan perinya buka Cinderella! Hahaha.” Canda Bella yang sedikit terpesona dengan kostum peri.


………………………………


Satu minggu kemudian…
“AAAA!” Teriak Bella dibelakang panggung. “Bentar lagi kita! Aduh gimana ini?” Bella terlihat pucat. Dia senang bisa tampil, tapi dia gugup.
“Selow.” Jord datang dengan mahkotanya. Dia sebagai Raja di cerita dongeng ini. Tidak berapa lama kemudian, drama dimulai. Tepat saat dibagian sang Ibu Peri datang, Lika diminta untuk menghadap penonton. Dia menangkap seorang lelaki, Niall. Sedikit gugup tapi Lika tetap memainkan perannya sampai akhirnya drama selesai.
“Hey, Ibu Peri.” Sapa Kevin dari belakang.
“Hmm hey” Lika tertunduk. Dia sudah mulai kesal jika Kevin datang dan menyapanya. Apalagi di depan teman-temannya.
“Jadi semalem ada yang nggak bales chat gue nih?” Sindir Kevin.
“Eh, aku nggak maksud gitu, Kak! Mama aku nyuruh aku ngerjain tugas, jadinya aku..” Belum sempat Lika menyelesaikan kalimatnya, Kevin datang mendekat. Seberapa besar usaha Lika untuk kabur, pasti akan selalu tertangkap. Jord pun datang sambil membawa beberapa buku.
“Ka, nih PR buat besok, eh Kak Kevin!” Jord sengaja melakukan ini agar Kevin menjauh. Lagi pula Jord juga tidak mau temannya menjadi sasaran Kevin.
“Eh iya, thanks, Jord! Gue ambil catetan dulu deh!” Dengan lincah, Lika berlari sekencang-kencangnya sampai akhirnya seseorang menarik tangannya. “AAAA” cowok itu menutupi mulut Lika dengan tangannya.
“Ini gue, santai aja.” Lika membuka matanya pelan, dilihatnya Niall yang sudah memeluknya dan tersenyum.
“Gue kirain Kak Kevin! Bikin kaget aja deh!” Niall melepaskan pelukkannya. “Ada apaan nih, tumben kesini. Ohya tau darimana ada acara kayak gini?” Lika mencari tempat duduk untuk mereka.
“Gue ngeliat brosur di kamar Jord. Ya gue tertarik aja pengen nonton. Pengen aja liat lo tampil,” Niall tersenyum, Lika malu. Ia tertunduk. “Eh gue juga mau ngeliat temen-temen gue yang main band haha.” Niall berusaha agar menutupi niat sebenarnya.
“Oalah, iya. Mereka keren banget nge-band tadi.” Lika mencoba untuk tidak terlihat canggung.
“Eh pulang sama siapa?”
“Sendiri mungkin. Mama sibuk.”
“Bareng, yuk?” Ajak Niall.
“Lah? Naik apa? Nggak usah deh, Jord gimana nanti kalo gue ikut.”
“Mobil. Halah Jord juga bawa motor kok ke sekolah, mau nggak? Daripada naik angkot atau ojek, bahaya.” Niall meyakinkan Lika.
“Hmm oke, boleh deh. Tunggu ya, ambil tas dulu dikelas.” Lika bangun dari kursinya.
“Eh,” Niall menahan Lika. “Ganti baju juga, nanti pada nanya ngapain gue bawa-bawa bidadari kerumah? Haha” canda Niall. Lika ikut tertawa kemudian menuju kelas.
“Feeling gue selama ini benerkan?” Niall sekarang tertuju kepada sepupunya. Jord.
“Hmm iya. Gue pikir awalnya lo cuma cemburu, ternyata feeling lo bener. Nggak ada yang salah. Tenang aja, gue bakal jagain dia disekolah buat lo.” Niall tersenyum mendengar ucapan itu dari sepupunya.
“Hey, udah selesai. Oh, hey Jord!” Lika menenteng tasnya.
“Oh mau balik berdua?” Jord merangkul Niall.
“Iyap. Jangan bilang lo pulang sama dia? Yah kalo gitu, gue nelfon temen gue aja deh!” Lika mengeluarkan handphone-nya dari saku.
“Eh enggak! Gue bawa motor, lagian buru-buru banget. Masih siang.” Jord melirik jam dinding diruang drama.
“Eh iya juga, bosen sih dirumah.” Lika kembali berfikir.
“Santai aja, jalan mau? Gue juga bosen dirumah, ada film seru tuh, film baru. Action tapi romance.” Niall mencari cara agar bisa bersama cewek itu.
“Boleh. Yaudah. Yuk jalan.” Lika mengikuti Niall dibelakang. Kevin melihat Niall yang menggandeng Lika.
Cukup lama mereka terjebak macet. Lika sangat bosan. Dibongkarnya CD lagu milik Niall. Sangat banyak tetapi Lika hanya tertuju pada satu CD yang emang udah dia suka banget dari awal.
“Lo punya CD lagu ini? Jangan bilang lo suka!” Diambilnya CD lagu-lagu Justin Bieber.
“Iya, gue juga punya bukunya yang Fisrt Step 2 Forever. Tau kan?” Niall membuka laci yang ada di mobilnya.
“Iya! Gue juga ada, boleh ya gue pasang lagunya? Bosen banget!” Niall mengiyakan. Lagu yang Lika pilih pertama adalah Never Let You Go.
“There’s a dream that I’ve been chasing want so badly for it to be reality and when you hold my hand then I understand that it’s meant to be ‘cause baby when you’re with me,” Lika menyayikan beberapa lirik.
“It’s like an angel came by and took me to heaven,” Niall melanjutkan beberapa lirik diikuti tawa Lika dan Niall bareng. “Kok nggak lanjutin? Oke gue nyanyi duluan ya sekarang.
“I’ve got my favorite girl not feeling no pain, no fear. Don’t have a care in the world why would I when you are here?” Lika terdiam. Tidak melanjutkan lirik yang di nyanyikan Niall. Terlalu terpesona dengan suara cowok manis itu. Niall hanya tersenyum, ini kesempatan untuk menggambarkan perasaan dia yang sebenarnya untuk Lika melalui permainan lanjut lirik lagu ini.
“So don’t fear, don’t you worry ‘bout a thing I am here, right here, I’ll never let you go, don’t shed a tear whenever you need me I’ll be here, I’ll never let you go.” Niall meraih tangan Lika. “Kok tadi nggak lanjutin nyanyi?”
“Haha nggak apa-apa, gue pilih lagu lagi ya? Hmm” Lika mengambil CD yang isinya playlist milik Niall, bukan CD album Justin Bieber atau Rihanna dan yang lainnya. Selama perjalanan menuju Mall, mereka bermain melanjutkan lirik. Mulai dari lagu So Sick - NeYo, Worldwide - Big Time Rush, Mistletoe - Justin Bieber, Hate That I Love You - Rihanna  ft. NeYo, Like We Used To - A Rocket To The Moon, dan banyak.
Sesampainya di Mall, mereka hanya makan es krim, nonton, dan terkadang melihat-lihat barang yang ada disana.
“Udah jam tujuh lewat, mau pulang?” Niall melirik kearah jam tangannya.
“Yuk, capek banget.” Niall mengandeng Lika diikuti Lika yang jalan sambil bersandar dilengan Niall.
Untungnya saat perjalanan pulang mereka tidak terjebak macet, sampai dirumah pas jam delapan malam. Mereka tidak langsung terburu-buru masuk kerumah. Niall mengajak Lika menikmati suasana malam yang indah di taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Lika terduduk diteras rumah pohon. Sedangkan Niall bermain basket dibawah. Malam itu cukup terang karena tersinari oleh bulan penuh dan beberapa bintang, biasanya bulan tertutupi awan-awan dan bintang terkadang tidak muncul.
Niall berhenti bermain basket kemudian menghampiri Lika yang dari sejak tadi memandang kearah langit. “Kenapa lo? Dari pas kita disini, ngeliat keatas terus? Nggak pernah liat bintang? Hahaha” Niall mengejek.
“Iya,” jawab Lika pelan dan tersenyum. “Waktu dulu kecil, gue malem-malem sama temen kecil gue selalu mandangin bintang yang banyak banget. Kalo temen kecil gue lagi dirumah atau lagi pergi, gue selalu duduk dirumah pohon gue yang dipuncak sana. Mandangin bintang, berharap temen gue juga liatin bintang.” Lika senang, semenjak pindah ke Jakarta, untuk memandang bintang sangat sulit karena banyaknya lampu-lampu yang menerangi malam dan polusi udara sehingga bintang tak terlihat, berbeda dengan dipuncak. Seluruh kebun teh diterangi oleh sinar bintang-bintang yang sangat banyak dan terang.
“Beberapa temen kecil gue bilang, kalo gue minta sesuatu sama bintang diatas, pasti bakal di kabulin. Cepat atau lambatnya ya gue nggak tau,” Lika kemudian memejamkan matanya merasakan hembusan angin malam.”
“Emang lo berharap apa aja?” Belum sempat Lika menjawab pertanyaan dari Niall, cowok itu menjawab pertanyaannya sendiri, “jadi putri cantik yang pakai gaun pink terus pake mahkota asli dan perhiasan yang indah banget? Dansa sama cowok cakep?” Lika tersentak.
“Tau darimana?” Lika menyipitkan matanya kearah Niall.
“Setau gue sih, itu emang udah jadi rata-rata harapan seorang cewek.” Niall merangkul temannya. “Lo tau nggak? Cowok kayak gue juga punya harapan loh, dari dulu semenjak ada temen kecil gue yang persis lo, bilang kalau bintang bisa ngabulin permohonan kita. Tiap malem gue selalu minta sama bintang buat temuin gue sama seorang cewek yang udah jauh banget dari gue berbelasan tahun.”
“Belasan tahun? Lama dong? Yaudah gue doain lo ketemu ya sama si cewek,” belum sempat Niall ingin memberitahu sesuatu kemudian hujan turun. “AAA! Eh ayo pulang yuk!” Lika menuruni tangga diikuti Niall.


………………………………


“Lo kenapa?” Tanya Bella yang sejak tadi pagi menyadari sahabatnya bersin.
“Semalem kehujanan, makanya nih gue pake sweater. Kedinginan sampe sekarang,” Lika menutupi hidungnya dengan kedua tangannya. Seorang lelaki menepuk pundak Lika.
“Hey,” sapa Jord.
“Hey,” Lika menahan bersin.
“Hey!” Bella semangat.
“Bosen nih, si Arvi nggak masuk. Join boleh?” Jord duduk tepat disebelah Lika. “Oh ya, nih, pake, anget deh beneran.” Lika menerima tawarin jaket ungu cantik itu.
“Ih anget, enak deh, berasa tenang gitu. Kayak dipeluk. Thanks, Jord, kalo gue udah sembuh langsung gue balikin, oke?” Lika memeluk temannya ini.
“Jangan bilang makasih ke gue, bilang ke Niall. Dia yang nitipin jaket itu. Kalo soal balik dan nggak usah balikin tanya ke dia langsung. Lebih enak, dari pada lewat perantara gitu.” Jord tersenyum. Keheningan menyelimuti ketiganya. Bella pun memulai pembicaraan.
“Hey, hey! Sabtu kan gue ulang tahun, dateng ya! Acaranya jam tujuh sampe sepuluh atau sebelas malem lah! Ayo dong!” Bella mengguncang tangan Jord dan Lika.
“Sip,” Lika mengangguk.
“Pasti.” Jord tersenyum.
“Ajak Niall jangan lupa!” Bella teringat akan cowok badai itu. Jord hanya tersenyum dan mengiyakan.


………………………………


“Ma, pergi dulu ya!” Lika menarik Pak Mir yang baru aja selesai makan.
“Kemana, Dek?” Pak Mir menyalakan mesin mobil.
“Nih,” Lika menyerahkan sebuah kertas. “Ke alamat itu ya, niatnya pengen bareng temen tapi ya pasti dia naik motor, mending aku tarik Pak Mir sekarang sebelum Mama minta tolong nganterin kemana-mana.” Lika duduk dibelakang, dia tidak terlalu suka duduk di depan kecuali kalau hanya berdua dengan keluarga atau teman.
Malam ini Lika memakai dress favoritenya. Pink tua yang cantik, dengan sepatu kesukaannya yang bermodel sama dengan sepatu Princess atau Barbie yang indah, dengan beberapa perhiasan penambah yang membuatnya terlihat lebih cantik malam itu.
Sesampainya disebuah gedung indah, Lika langsung meminta Pak Mir pulang. Lika menghampiri beberapa temannya diluar gedung.
“Bella! Hey baby, happy birthday ya sayang!” Lika memeluk temannya sangat erat.
“Makasih, Lika sayang! Duh suka banget gue liat dress lo,” Lika kemudian memberikan hadiah yang tidak dibungkus. Seekor anak anjing.
“Ahh lucu banget, ih ini kan yang gue pengen dari dulu! Makasih ya, Lika! Bakal gue rawat bener-bener kayak persahabatan kita, sampe dia gede pokoknya!” Bella menangis senang.
Pesta berjalan dengan sangat mewah dan seru.
“Sekarang saatnya kita mengucapkan sesuatu untuk Bella!” Cowok ini adalah Kak Rino. Kakak tersayang Bella. Tidak ada yang mau maju lebih dulu, ketika Kak Rino ingin menunjuk seorang cowok, dengan cepat Jord mengangkat tangan.
“Gue mau duluan!” Teriaknya. Dia kemudian naik ke panggung. “Nggak banyak kok, cuma mau bongkar beberapa rahasia.” Bella sudah takut kalau Jord membongkar rahasia aibnya dia, walaupun dia kurang yakin Jord tau darimana semua rahasia Bella. “Bunga, coklat, surat, e-mail dari alamat yang nggak lo kenal, semua itu gue. Gue nitip coklat ke Lika buat lo. Gue pernah bilang ‘jangan kasih tau ke Bella kalau itu dari gue, gue mau ngaku sendiri. Gue nggak mau dia tau dari orang lain’, dan gue nyari waktu yang tepat sampe akhirnya kemaren malem sodara gue, Niall, bilang kalau gue harus ungkapin sekarang sebelum terlambat. Yaudah. Itu aja kok, thanks.” Seisi ruangan dipenuhi dengan cie-an, siulan, dan tepukkan tangan yang meriah.
Sesudah semunya menyampaikan beberapa kata untuk Bella, mereka dipersilahkan untuk menikmati hidangan.
“Lika Carissa!” Teriak Bella yang keluar dari ruangan, dia berlari menghampiri temannya yang sedang memakan buah. “Gue jadian!”
“Di hari ulang tahun lo?” Lika ikut senang. Tanpa harus bertanya dengan siapa Bella berpacaran sekarang, Lika sudah mengetahuinya. Bella kemudian menghampiri Jord dan bercanda bareng.
“Eh ikut gue sebentar yuk?” Ajak Niall yang kemudian menggandeng tangan Lika keluar gedung. Depan gedung acara, taman yang indah yang penuh dengan bunga dan beberapa air mancur. Niall menunjuk ke langit malam.
“Ahhh bintangnya banyak banget, tumben!” Lika tersenyum lebar.
“Gue tau lo seneng, makanya gue ajak kesini. Kok tumben? Daerah sini kan emang nggak banyak perumahan besar sama gedung-gedung kayak ditempat kita. Makanya lebih keliatan jelas dan banyak.” Niall berdiri dekat tepat dibelakang Lika.
“Ikut gue!” Lika menepuk pundak Niall kemudian berlari kearah salah satu air mancur yang besar, ditengah taman. “Bintang yang itu cantik banget, bersinar paling terang dari yang lain.” Lika terkagum-kagum melihat bintang itu.
Niall membalikan badan Lika sehingga dia berhadapan dengan dadanya. “Percaya nggak percaya, bintang-bintang itu sembunyiin sebuah rahasia ke lo. Udah dari dulu banget.” Niall memandang bintang yang ditaksir Lika.
“Maksud?”
“Inget nggak? Gue pernah bilang kalau ada temen kecil gue yang kayak lo, bilang kalau bintang bisa ngabulin permohonan kita. Gue mikirnya tuh cewek bodoh, tapi semenjak gue tinggal di Australia, Texas, London, tiap malem gue berharap ke bintang kalau gue suatu hari nanti balik ke Indonesia nggak tau ke kota mana yang penting bisa ketemu cewek itu. Dulu pas dipuncak, gue sama dia selalu duduk-duduk mandangin bintang. Dia selalu cerita ke gue detail banget tentang permohonannya sama bintang. Kalau gue kadang suka nggak bisa mandang bintang sama dia, gue selalu liatin bintang dari jendela kamar dan berharap cewek itu mandang bintang juga. Sampe akhirnya gue tau, kalau cewek itu juga mandang bintang dari rumah pohon punya gue sama dia.” Niall kemudian melihat kearah Lika. Lika shock. Kaget. Nggak percaya.
“James?” Lika mengingat teman kecilnya. “James Horan?!” Dia menyebut nama itu dengan senang.
“Yep, Niall James Horan. Lo selalu lupa sama nama ‘Niall’ gue, gara-gara dulu lo bilang nama gue susah buat diucapin sama bocah seusia lo.” Lika mendadak memeluk Niall.
“Bintang-bintang itu juga nyembunyiin rahasia dari lo.” Lika juga ingin mengungkapkan rahasia dia selama ini.
“Apa?” Niall penasaran.
“Cowok yang selama ini gue tunggu-tunggu, cowok yang sekarang ada di hadapan gue.” Lika canggung.
Niall dengan pelan menarik wajah Lika ke wajahnya dan, di saat ini lah permohonan Lika dan Niall di kabulkan oleh sang bintang.
“Will you be my girl?” Niall memandang kearah mata coklat itu.
“Hmm iya, mau.” Lika sedikit malu-malu.
“Dansa yuk? Kan udah pake dress pink, dapet first kiss, masa mau nolak first dance?” Niall kemudian meraih tangan Lika dan lagu di dalam gedung terdengar sampai ke taman. Lika menyenderkan kepalanya di dada Niall.
Malam yang melelahkan.
Pagi itu, Lika terbangun mendengar kedatangan tantenya yang baru saja sembuh. Belum sempat dia mencuci muka dan turun kebawah menghampiri sang tante, dia dikejutkan dengan sebuah kirimin bunga yang cantik-cantik yang ditaruh di meja kecil samping kasurnya. Diambilnya amplop yang tersangkut. Dibukanya amplop tersebut dan dilihatnya isi surat itu.

Good morning, beautiful. How was your dreams last night? Meet me at the park, 03.00 PM, before the kids own our tree house, haha. Bye x
Love,
Niall James Horan

Lika tersenyum kecil. Baru saja mau beranjak dari tempat, Mama dan Tante Intan masuk kedalam.
“Tuh, liat. Pagi-pagi tadi langsung ada cowok nitip bunga ini buat Lika,” goda Mama.
“Aih lucunya,” Tante Intan kagum.
“Ahh, Mama! Apaan sih! Hey, Tante Intan! Hehe” Lika segera menuju kamar mandi kemudian menuju ruang bawah untuk berkumpul dengan beberapa saudara. Papa mengajak semuanya untuk makan siang diluar. Ketika pulang, Lika terpisah dengan Tante Intan dan keluarga yang akan kembali ke Bandung malam ini. Sampai dirumah, dilihatnya jam. Pukul dua siang. Masih ada beberapa menit untuk tidur sebentar dan bersiap-siap menemui Niall.
Lika terbangun. Dilihatnya jam kecil di meja samping kasurnya, dan ternya 03.10! Dengan cepat dia langsung menuruni tangga, dan berlari menuju taman. Masih sepi. Dari bawah, dia mencoba melihat ke dalam rumah pohon. Kosong. “Bego.” Lika memukul jidatnya. Mungkin Niall kesal dan pulang. Lika langsung membalikkan badan. Baru saja dia melangkah, seseorang menghantam kepalanya dengan bola basket. Lika menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Dia bersiap-siap lari.
“Mau kemana?” Niall keluar dari rumah pohon.
“Aku kira kamu udah pulang, yaudah aku balik aja lagi.” Lika menaikki tangga.
“Enggak. Nggak akan pernah. Walau pun misalnya ternyata kamu bisa dateng besok pagi, bakal aku tunggu terus disini.” Niall memeluk Lika erat. “Ahh!” Niall teriak keras, tiba-tiba Lika mencubit Niall.
“Apa-apaan sih?” Niall mengelus lengannya yang membiru.
“Maaf.” Lika tertunduk, dia tidak tahu bahwa cubitannya menjadi biru seperti itu. “Lagian tadi kamu lempar bola basket ke kepala aku, kan sakit. Untung aku cuma pusing doang, nggak lebih.” Niall kemudian mengangkat kepala Lika.
“Iya, nggak apa-apa. Maaf juga ya,” Lika mengangguk kemudian turun dari rumah pohon.
“Tunggu sebentar ya,” Niall menarik tangan Lika. “Nggak kok, nanti aku balik. Beneran, mau ngambil barang aja.” Niall melepaskan genggamannya. Tidak memakan waktu lama, Lika kembali dengan beberapa barang.
“Sini tangan kamu.” Lika meraih tangan Niall yang luka.
“Mau ngapain kamu?”
“Aku kan nggak tega, merasa bersalah juga jadinya aku obatin. Udah diem aja, kalau kamu nolak aku beneran balik dan nggak akan mau ketemu kamu lagi.” Niall pun terdiam, cukup perih luka yang sedang di obati, ingin rasanya menyuruh Lika berhenti, tapi dia takut Lika akan melakukan ucapannya tadi.
“Udah?” Niall masih memejamkan mata menahan perihnya.
“Iya, payah ah kamu, masa sampe merem. Hehe bercanda ya,” Lika kemudian menyerahkan jaket. “Nih, thanks waktu itu minjemin jaket kamu ke aku. Enak banget dipake.”
“Eh, itu emang buat kamu. Sengaja aku pesen ke temen Mama aku di London.” Niall memakaikan jaket itu ke badan Lika. “Lagian aku juga punya model dan bahan yang sama kayak gini, tapi bedanya kamu ungu aku merah.” Niall mengeluarkan jaket itu dari tas yang dibawanya. Sebelum ke rumah pohon ini, Niall ada latihan basket ditempat Liam.


………………………………


Sebulan kemudian..
“Maaaaa. Pergi dulu, dah!”
“Lika mau kemana, Ma?” Tanya Papa.
“Nggak tau tuh, Pa. Biasa hari ini katanya Anniversary One Month sama Niall. Temen kecil dia dulu.” Mama menutup pintu. Papa menggeleng dan tersenyum.
Lika menghampiri Niall yang sudah menunggu. “Lemot nih,” ejek Niall.
“Ih yaudah sih, gitu kan, pulang nih?”
“Eh jangan, udah yuk naik.” Niall membuka pintu untuk Lika.
“James, emangnya kita mau kemana? Kenapa sore perginya?” Lika memandang kearah Niall.
“Sekarang panggil Niall aja, ya sayang? Hmm ada deh, udah pokoknya kamu ikut aja. Bawa baju buat pulang besok?” Niall melajukan mobilnya.
“Bawa,” jawab Lika singkat sambil mencari lagu yang sedang ingin di dengarkan. “Aku juga bawa jaket ungu yang dari kamu, kamu bawa punya kamu nggak?”
“Yah! Aku lupa! Ada di kamar Jord!” Lika terlihat kesal. “Enggak kok bercanda doang aku, sayang ngambek ya? Jangan dong, tuh ada di kursi belakang kalau sayang nggak percaya.” Lika kemudian memukul pelan pipi Niall.
“Jelek bawa gitar?” Lika melihat kearah kursi belakang.
“Iya, punya saudara aku. Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Kirain jelek bisa main gitar.” Ejek Lika.
“Ih aku bisa! Kayak kamu bisa aja sih,” Niall mencubit pipi Lika pelan.
“Eh emang aku nggak bisa main gitar, tapi aku bisa sih ya main piano! Nantangin ya kamu!” Kemudian Niall memutar lagu dari playlist-nya.
Perjalanan cukup jauh, tepat pukul 05.30 PM, sampai lah mereka disebuah kebun yang mungkin Lika sudah tidak terlalu ingat.
Niall menutup mata Lika dengan kedua tangannya ketika Lika turun dari mobil.
“Nih kamu pake kain ini, jangan dibuka sampe aku bilang buka. Kamu pegang tangan aku aja, supaya jalannya nggak susah.” Niall mengikat kain itu ke kepala Lika.
“Mau kemana sih?” Lika memegang kuat lengan Niall, jaga-jaga supaya jalan tidak susah.
“Sayang ikut aku aja, nggak usah nanya dulu, nanti kamu aku tinggal loh apalagi kalau kamu buka menutup matanya” Lika kemudian diam dan sekarang tidak hanya memegang lengan Niall melainkan kepala Niall dan rambutnya. Sampai lah mereka di tempat yang dituju.
“Kok berhenti? Eh jelek, kamu kemana?!” Lika panik, dia merasakan Niall melepaskan gandengannya. Lika yang tak tahu apa-apa hanya menahan tangisnya terduduk ditengah lapangan.
“Lika Carissa..”
“Niall?!” Lika berusaha mendengar dimana arah suara itu.
“Kamu boleh buka kok penutup matanya,” Lika membuka pelan. Dilihatnya dia terduduk dilapangan basket kecil, di sisi kanannya terdapat rumah pohon yang dibawahnya terdapat meja bulat yang dihiasi dengan cantik dan dua kursi. Niall berdiri di belakang meja dan tentu saja dia membelakangi rumah pohon, milik mereka.
“Jelek!” Teriak Lika tepat di depan Niall beberapa menit kemudian. “Aku kira kamu ninggalin aku, kamu tau nggak sih aku tuh takut!” Niall langsung memeluk Lika dengan lembut.
“Maaf,” bisik Niall tepat di telinga Lika. “Lagian kok tadi kamu, nggak langsung buka aja penutup matanya?”
“Kamu kan bilang sendiri, kalau aku buka penutup matanya, kamu ninggalin aku, ya jadi nggak aku buka sampe kamu nyuruh.” Lika mencubit hidung Niall.
Kemudian Niall mengajak Lika bermain basket.
“Ih kamu kan tau aku nggak bisa main basket, jahat kan?”
“Tau kok aku kamu nggak bisa main, emang sengaja.” Niall melempar bola tepat kearah Lika dan Lika lari. “Ditangkep dong, sayang kok malah lari?”
“Ih, James! Kamu kan tau sendiri aku paling takut dilemparin bola! Ish.” Lika semakin jengkel. Niall menghampiri Lika.
“Sekarang kan kamu bukan bocah, panggil Niall nggak susah kan?” Diciumnya bibir Lika lembut.
“Aku tantangin kamu, jadi cheerleader!” Niall tersentak mendengar tantangan itu. “Yah si jelek juga nggak bisa kan? Woo, payah!” Niall kemudian meninggalkan Lika, berlari menuju sebuah rumah kecil. “Yah, Niall jangan marah!” Niall tetap berlari menuju rumah itu. Lika yang juga kesal dengan sikap Niall, naik keatas rumah pohon dan menyendiri.
Cukup lama Lika berdiam diri dan Niall belum balik. Sampai akhirnya, Niall melempar batu kecil keatas rumah pohon.
“Sayang, turun dong.” Lika terdiam. Niall kembali melempari batu, tidak ada jawaban.
Dibawah sana tidak terdengar suara apa-apa. Lika mengintip kebawah. Niall tidak ada. Dia pun turun. “Tuh kan, pasti ujung-ujung ninggalin. Katanya sayang.” Lika duduk disalah satu kursi.
Tiba-tiba seseorang menaruh makanan kesukaan Lika dari belakang. “Aku cuma ninggalin beberapa menit doang udah ngambek aja sih.” Niall duduk di kursi depan Lika. “Yaudah sana itu dimakan dulu, udah malem, kalau nggak makan nanti kamu beneran aku tinggalin disini.”
Selesai makan, Niall kembali membersihkan bekas makan malam mereka. Sesudah itu, Lika yang terduduk dibawah rumah pohon, melempari Niall batu kecil. Niall menarik tangan Lika dan menggendongnya.
“Niall!” Lika tersentak kaget. Niall menurunkan Lika di rerumputan yang indah. Kemudian Lika terbaring, diikuti Niall yang berbaring disebelah Lika.
“Tuh, bintang yang pertama kali kita jadian.” Niall menunjuk kearah bintang yang bersinar terang.
“Iya, banyak ya bintang disini, nggak kayak di Jakarta,” Lika tertawa kecil. Niall kemudian bangkit. “Eh jelek mau kemana?” Lika menahan tangan Niall.
“Sebentar aja kok, bener deh aku langsung balik lagi.”
“Oke,” Lika kembali memandang langit-langit.
Niall kembali sambil memainkan gitar Just The Way You Are. Lika hanya bisa tersenyum, malu, senang, dan bahagia.
“Pengen sih aku nyanyi lagu buat kamu pake piano tapi ya aku nggak bawa piano haha dan ini kan aku juga nggak tau kamu bakal kasih kejutan ini,” Niall hanya tersenyum mendengar semua itu.
“Ohya inget ini?” Niall mengeluarkan boneka beruang kecil yang membawa sebuah coklat.
“Inget, itu kan yang dari aku! Tapi kok, jaitan coklatnya,” Lika menyadari perbedaan dari boneka itu.
“Eh iya, waktu mau pindah kejepit dilemari, terus nggak sengaja ketarik, lepas deh. Terus sampe di Australia, Mama aku nggak sempet ngejait yaudah aku jait aja sendiri hehe nggak rapih ya?” Lika tersenyum mendengar kalimat itu.
“Kalau kamu masih nyimpen nggak?”
“Nyimpen apa?” Lika tidak ingat apa-apa.
“Bola basket pertama aku yang ku kasih ke kamu sehari sebelum aku pergi,” Niall meyakinkan kalau dulu dia memang memberikan itu ke Lika.
“Bola basket?” Lika mencoba mengingat. “Ahh!” Kemudian penyesalan datang, dia menangis.
“Lah? Kok nangis? Sayang kenapa?” Niall panik.
“Waktu itu aku liat bonekanya robek dan ada di deket sampah-sampah terus aku mikirnya kamu nggak suka terus kamu rusak dan kamu buang, akhirnya karena kesel bola kamu,” Lika menahan tangisnya, “aku lempar ke danau yang besar disana.” Tangis Lika semakin kencang.
“Eh?” Niall kaget, dia tersentak, tapi untuk sekarang ini dia hanya ingin menenangkan Lika. “Yaudah nggak apa-apa kok, kan waktu itu kamu masih kecil. Itu juga salah aku main ninggalin aja, ditaro dilantai lagi bukan diatas kasur atau meja. Udah ya jangan nangis,” Niall memeluk Lika.
“Tapi bolanya,” Lika masih tidak enak.
“Masalah bola mah lupain aja, mungkin emang takdir aku kehilangan bola basket pertama aku, tapi aku nggak akan biarin pacar pertama aku ninggalin aku, oke?” Lika tersenyum mendengar kata-kata itu.
“Iya, maaf ya jelek,” Lika mencium pipi Niall cukup lama.
“Iya sayang, nggak apa-apa,”
“Hehe, liat bintang itu deh, cantik banget,” Lika menunjuk satu bintang yang sama persis seperti bintang yang mereka temui saat pertama kali pacaran.
“Jadi ada dua deh,” Niall memeluk Lika erat.
“Iya, itu kamu, yang itu aku.”
“Bintang udah bongkar semua rahasia kita kan?” Tanya Niall.
“Iya,” jawab Lika lembut.
“Sayang, happy anniversary ya,” Niall memeluk Lika dalam tidurnya.
“Iya sayang, happy anniversary.” Bintang-bintang menyinari malam anniversary Niall dan Lika.

No comments:

Post a Comment